Sejarah

Sejarah Berdirinya Ma'had Aisyiyah Tahfizhul Qur'an Gemolong

Keartistikan logo di atas jangan ditanya, memiliki makna terdalam yang mungkin tidak diketahui mereka tanpa mendengarkan dan membaca kisah sejarah Ma’had Aisyiyah Tahfizhul Qur’an Gemolong yang hadir di tengah-tengah masyarakat sekarang.

Ma’had Aisyiyah Tahfizhul Qur’an Gemolong yang terletak di Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah adalah satu- satunya pondok pesantren tahfizhul Qur’an di bawah asuhan Aisyiyah, yang mana pada awalnya pondok pesantren iniberangkat dari panti asuhan.

Pendirian Ma’had Aisyiyah Tahfizhul Qur’an Gemolong merupakan bentuk kepedulian Pimpinan Cabang Aisyiyah Kecamatan Gemolong untuk memberikan bimbingan kepada generasi penerus islam dalam menghafal Al-Qur’an, pembelajaran Bahasa Arab dan Ilmu Syar’i secara mendalam.

Kehadiran Ma’had ini diharapkan menjadi wadah pengkaderan santri agar menjadi ulama dan pemimpin masa depan yang memiliki aqidah shalihah dan berakhlakul karimah.

Ma’had Aisyiyah Tahfizhul Qur’an Gemolong berdiri pada tahun 2015. Memasuki usia ke tujuh di tahun 2022 ini, Alhamdulillah atas izin Allah telah memiliki jumlah santri sebanyak 149 santri dan angkatan pertama telah mulai pengabdian pada tahun 2022 ini.

Ma’had Aisyiyah Tahfizhul Qur’an Gemolong adalah salah satu instrumen Gerakan Dakwah Muhammadiyah disektor pendidikan khususnya dalam menghafal Alqur’an. Yang mana, pondok pesantren inti setingkat SMP dan SMA. 

Untuk itu Ma’had Aisyiyah Gemolong sebagai pelaksana harus melaksanakan dan mengembangkan proses pembelajaran mengacu pada Visi, Misi dan tujuan Muhammadiyah yang kemudian dirumuskan dalamvisi, misi dan tujuanMa’had Aisyiyah Gemolong.

Pada tahun 2021, Ma’had Aisyiyah Tahfizhul Qur’an Gemolong telah mendirikan bangunan kedua yang terletak kira-kira 1 KM dari bangunan pertama dan telah menghadirkan satu angkatan santri putra yang bermukim untuk sementara ini di SMP Muhammadiyah 9 Gemolong.

Bangunan kedua Ma’had yang baru didirikan pada tahun 2021 dinamakan kampus 2. Bangunan utama yang telah berdirisejak tahun 2015 sebagai kampus 1. Namun, segala bentuk administrasi dan koordinasi tetap satu arah dan satu wadah yang berpusat di kampus 1.

Ma’had Aisyiyah Tahfizhul Qur’an Gemolong ini berbasis tahfizhul Qur’an yang mana memiliki empat kompetensi secara umum diajarkan.

Pertama, bahasa terutama Bahasa Arab dengan bekal Bahasa Arab ini santri diharapkan tidak hanya menghafal tetapi dia juga memahami isi dari Alqu’ran. Kedua, ilmu syar’I yaitu ilmu yang diajarkan di pondok pesantren salaf dan sebagian besar ilmu-ilmu yang diajarkan dalam Ma’had ini berbahasa Arab.

Ketiga, pendidikan umum, karena Ma’had ini setingkat SMP dan SMA maka pendidikan umum yang diajarkan standar dengan pendidikan nasional. Keempat; kemandirian, leadership, entrepreneur dan pengabdian masyarakat. Maka dengan keempat program ini, santri-santri diharapkan menjadi santri yang sholih dan sholihah.

Kampus 2 Ma'had Aisyiyah Tahfizhul Qur'an Gemolong

Latar Belakang Berdirinya Ma'had Aisyiyah Tahfizhul Qur'an Gemolong

Kondisi pendidikan saat akan berdirinya Ma’had telah melalui banyak sekali tantangan, masyarakat sekitar dan bagaimana realita pendidikan serta kebutuhan masyarakat yang merasa penting dengan adanya Ma’had merangkum semua dalam sejarah yang tidak bisa dilupakan. Bagaikan peradaban emas untuk Ma’had yang dimulai dari tidak ada menjadi ada secara bertahao dengan ada yang senantiasa berkembang.

Pada tahun 2014, awal mula, Pimpinan Cabang Aisyiyah mendapatkan tanah wakaf dari Ibu Hj. Mardiyah yaitu keluarga bapak Haji Jamasri. Tanah wakaf yang juga rumah bangunan desa di dalamnya. Muncullah gagasan untuk membuat sebuah panti asuhan yang mana dikomando oleh Ibu Hj. Siti Zulaikhah, S.H (Pimpinan Cabang Aisyiyah Gemolong pada tahun tersebut) dan musyawarah bersama tokoh-tokoh di Pimpinan Cabang Aisyiyah pada tahun tersebut, seperti Ibu Hj. Mardiyah, Ibu Hj. Sri lestari.

Pada awalnya, tantangan berkesan pertama, hadir dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah itu sendiri. Bapak-bapak Pimpinan Cabang Muhammadiyah seolah menyampaikan bahwa “Ibu-ibu Pimpinan Cabang Aisyiyah ini seperti kurang kerjaan, mendirikan lembaga-lembaga yang belum selesai, tetapi mau mendirikan lagi”.

Ternyata ungkapan ini memiliki stimulus dan suntikan motivasi untuk ibu-ibu Pimpinan Cabang Aisyiyah, bukan sebuah kemunduran tetapi ingin dibuktikan dengan kemajuan yang menghadirkan cita-cita yang nyata. Ya Rabbi, Allah bersama mereka. Kemudian, dibersamai Ustadz Misbachul chairil anwar, S.Pd.I yang mana terlibat untuk konsep dan manajemen, ibu-ibu Pimpinan mulai semangat untuk membuat panti asuhan dari tanah wakaf tersebut.

“Terkadang kita mendirikan sebuah lembaga, panti asuhan misalnya, yang mana lalu mendapatkan protes, tetapi, apabila ada agama lain yang mendirikan panti yang serupa misalnya, bisa dipastikan bahwa kita juga akan geram. Kenapa bukan kita yang mendirikan?” Ustadz Misbachul Chairil Anwar, S.Pd.I.

Jawaban diplomatis di atas agar panti asuhan ini bisa tetap berjalan, hingga telah diadakan beberapa kegiatan yang berjalan seperti santunan anak yatim dan duafa. Ada sekitar 70 anak yang diberikan santunan tapi belum tinggal di panti asuhan walaupun pada saat itu telah ada pengasuh panti asuhan.

Hingga berjalan satu tahun sejak panti asuhan didirikan, ternyata tidak ada satupun anak asuh yang mau tinggal dalam panti. Hal ini menjadi PR khusus hingga akhirnya mencari inspirasi panti asuhan di kota-kota lain yang mana ternyata juga sama-sama mengalami penurunan jumlah anak asuh dan perawatan yang animonya sangat berkurang.

Terbesit pesimisme dalam diri para pendiri, “Panti asuhan yang telah lama berdiri saja untuk eksis sangatlah berat. Bagaimana dengan yang akan memulai?” karena rata-rata anak asuh tidak mau mendapatkan label anak panti. Hingga akhirlah, muncul ide dan gagasan baru untuk membuat sebuah pondok pesantren.

Dari Panti Asuhan Menjadi Ma'had Aisyiyah Tahfizhul Qur'an Gemolong

Dibutuhkan waktu selama tiga bulan untuk bermusyawarah, hingga setuju merubahnya dari panti menjadi pondok pesantren. Selama proses musyawarah, gedung belakang Ma’had kala itu sudah mulai proses pembangunan. Namun, belum ada santri yang mau tinggal hingga awal tahun 2015.

Mulai dari konsep hingga semua hal yang mendukung pembangunan dan berdirinya lembaga mulai dibentuk oleh Ustadz Misbachul chairil anwar, S.Pd.I yang waktu itu dibersamai oleh Ustadz Mulyadi alumni dari Isykarima. Yang mana dijembatani perkenalan itu oleh mas Irfan Hanafi anakdari Ibu Hj. Mardiyah.

Diskusi panjang untuk mengkonsep pembangunan pondok pesantren kurang lebih berjalan sebanyak delapan kali yang melibatkan Ustadz Ummar al hafiz.

Rencana awal pondok pesantren yang ingin dibentuk adalah pondok pesantren yang memiliki ciri khas khusus tahfidz. Tersusunlah kurikulum hingga konsepnya sedemikian rupa. Lalu tiga bulan kemudian mulai sosialisasi dengan pengurus Aisyiyah. Alhamdulillah, bisa dilaksanakan proses pendaftaran.

Tantangan kedua, setelah Ma’had berdiri selama satu tahun ternyata tidak ada yang mendaftar sama sekali. Padahal telah ada pengasuh yang menempati Ma’had yaitu Ustadz Mulyadi beserta keluarga. Akhirnya, selama satu tahun tersebut dimanfaatkanlah cara sosialisasi Ma’had dengan membuka program tahfidz yang mana pesertanya adalah guru-guru dari lembaga Aisyiyah Gemolong.

Ma’had menerima setoran guru-guru dari lembaga Aisyiyah Gemolong karena memang belum ada santri yang mendaftar. Tahun 2016, atas semua upaya Allah SWT mengirimkan 21 santri yang tergerak untuk mendaftar di Ma’had Aisyiyah Tahfizhul Qur’an Gemolong.

Tentu, semua tantangan dan perjuangan itu tak luput dari kesolidan dan dukungan materi dari pengurus yang sangat luar biasa.

Ma'had Kampus I Tahun 2017 Beserta Santri

Kesiapan Persyarikatan (Pimpinan Aisyiyah)

Pengurus Aisyiyah secara kesiapan materi dengan alokasi yang ada saat ini 600 m2, betul-betul telah mensupport baik secara software hingga hardware. Dari yang belum memiliki konsepnya artinya kesiapan secara program-program yang masih sangat minim namun sangat punya modal berupa hardware.

Koordinasi dan kekompakkan antar pengurus sangat luar biasa solid sekali karena ibu-ibu pengurus memiliki cita-cita yang sangat mulia yaitu menjadikan anak-anak yang mendapatkan santunan setiap bulan bukan hanya materi saja tetapi juga pendidikan. Walaupun awalnya berubah dari panti menjadi pondok pesantren dengan konsep yang tidak meninggalkan panti asuhan. Maknanya adalah anak-anak yatim dan duafa tetap diberikan santunan dan biaya pendidikan. Yatim 100% dan duafa akan mendapatkan keringanan sehingga mereka mendapatkan ilmu yang memumpuni dan lebih.

Demikianlah cita-cita mulia dari ibu-ibu pengurus Aisyiyah sehingga menjadikan mereka solid luarbiasa. Selain itu tantangan demi tantangan menjadikan kesolidan itu menjadi semakin kuat.

Tokoh-tokoh Pendiri dan Pencetus Ma'had Aisyiyah Tahfizhul Qur'an Gemolong

Tokoh-tokoh yang berperan yaitu ibu Hj. Siti Zulaikhah S.H (pimpinan cabang aisyiyah gemolong tahun 2014), Ibu Hj. Mardiyah (pemilik tanah wakaf), Ibu Hj. Sri Lestari, Ibu Hj. Endang ulupi, S.Pd, Ibu Dra. Hj. Siti Mursidah, Ibu Hj. Marhamah, S.Pd, M.Pd, Ibu Hj. Zainal, Ibu Hj. Ngatijan, Ibu Hj. Siti Aisyah, dan pengurus Aisyiyah gemolong periode tahun 2014 dan periode sekarang beserta Ustadz Misbachul chairil anwar, S.Pd.I.

Sejarah Pejabat Lembaga

Mudir Ma’had Aisyiyah Tahfizhul Qur’an Gemolong yang pertama kali yaitu Ustadz Mulyadi selama satu tahun. Setelah itu berganti mudir Ma’had yang kedua yaitu Ustadzah Redah rosyita nur aisyah, S.H selama dua bulan kemudian Mudir Ma’had berganti Ustadz Misbachul chairil anwar, S.Pd.I. sebagai PLT (Pelaksana Tugas) hingga sekarang menjabat sebagai mudir Ma’had Aisyiyah Tahfizhul Qur’an Gemolong.

Keunggulan dan keunikan di ma’had yaitu pertama, program tahfidz yang ketika itu masih popularitas sekali di dunia pendidikan terutama pesantren program ini tidak lepas adalah peran dari Ustadz Mulyadi.

Kedua, kita juga di Muhammadiyah bagian dari persyarikatan Muhammadiyah yang mana belum ada pondok-pondok pesantren Muhammadiyah yang konsentrasi di bidang tahfidz.

Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri. Ketiga, SDM yang sulit dicari dari kalanganMuhammadiyah, karena masih terbatas. Secara kualitas masih harus senantiasa berbenah. Tentunya kebersihan, kerapian dan ketertiban menjadi nilai plus di Ma’had ini.

Keempat, Ma’had membuat semacamiklan di suara Muhammadiyah yang bisa diakses oleh simpatisan dan warga Muhammadiyah sehingga santri-santri dan jaringan-jaringan bisa menyebar hingga luar provinsi sebagai langkah awal mempromosikan Ma’had bahwa kita memiliki pondok pesantren.